SIGAP TERHADAP TETANUS

Tetanus atau dikenal sebagai seven day disease merupakan penyakit yabg disebabkan oleh clostridium tetani. Bakteri gram positif ini menghasilkan neurotoksin berupa tetanospasmin yang menimbulkan gejala spasme pada penderitanya. Jalan masuk tetanus pada umumnya melalui luka pada kulit akibat terpotong, tertusuk, maupun luka bakar.

Derajat penyakit

Derajat I  (tetanus ringan)

  • Trismus ringan sampai sedang
  • Kekakuan umum: kaku kuduk, opistotonus, perut papan
  • Tidak dijumpai disfagia atau ringan
  • Tidak dijumpai kejang
  • Tidak dijumpai gangguan respirasi

Derajat II (tetanus sedang)

  • Trismus sedang
  • Kekakuan jelas
  • Dijumpai kejang rangsang, tidak ada kejang spontan
  • Takipneu
  • Disfagia ringan

Derajat III (tetanus berat)

  • Trismus berat
  • Otot spastis, kejang spontan<
  • Takipne, takikardia
  • Serangan apne (apneic spell)
  • Disfagia berat
  • Aktivitas sistem autonom meningkat

Derajat IV (stadium terminal), derajat III ditambah dengan

  • Gangguan autonom berat
  • Hipertensi berat dan takikardi, atau
  • Hipotensi dan bradikardi
  • Hipertensi berat atau hipotensi berat

Dalam mengangani kasus tersebut hal pertama yang harus dilakukan adalah mencegah pengeluaran toksin lebih lanjut. Lakukan pembersihan luka secara steril dapat dengan air mengalir maupun alcohol kemudian lanjurkan dengan debridement. Setelah itu berikan antibiotik. Penisilin 1,2 juta IU/hari secara intramuscular (suntikan sampai ke otot) selama 10 hari dapat dijadikan pilihan utama. Pada kasus anak penisilin diberikan dalam dosis besar 50 ribu UI/kgBB/kali tiap 12 jam secara intramuskular selama 7-10 hari. Apabila pasien resisten (kebal) terhadap penisilin, dapat diganti dengan tetrasiklin dosis 30-40 mg/kgBB/24 jam dengan dosis maksimal sebanyak 2 gram. Patut diperhatikan pemberian antibiotic harus disesuaikan dengan pola resistensi kuman setempat.

Setelah pengeluaran toksin dicegah, segera lakukan netralisir toksin yang terdapat di dalam tubuh. Netralisasi dilakukan dengan pemberian human tetanus immunoglobulin (HTIg) 150 UI/kgBB dosis tunggal secara intramuscular (IM). Apabila HTIg tidak tersedia berikan antitetanus serum (ATS) secara IM. Dalam pemberian ATS waspada ancaman resiko reaksi anafilaksis terhadap ATS dengan tes alergi (skin test) terlebih dahulu. Lakukan skin test dengan cara suntikkan ATS secara subkutan yang telah diencerkan 10 kali. Bila dalam lima menit tidak tampak reaksi alergi, lakukan penyuntikan ATS secara IM. Bersamaan dengan pemberian ATS berikan imunisasi tetanus toksoid (TT) secara IM pada sisi yang berlawanan.

Apabila toksin telah mencapai sistem saraf pusat, waspadai gejala lanjutan seperti kejang, gangguan respirasi, dan fungsi otonomik. Pemberian obat sedatif dapat digunakan untuk mengontrol kejang dan disfungsi otonomik. Benzodiazepin seperi diazepam dan midazolam dengan dosis 0,1 mg/kgBB secara intravena (IV) maupun IM setiap 1-4 jam dapat dijadikan pilihan. Opioid seperti morfin 0,1 mg/kgBB secara IV maupun IM setiap 2-6 jam dapat dikombinasikan dengan benzodiazepin. Antikonvulsan berupa venobarbital dan fenotiazin dapat diberikan secara sedatif tambahan.

Seharusnya dengan sedative saja dapat mengatasi gejala. Namun apabila gejala belum hilang, pertimbangkan pemberian pelemas otot. Vekuronium 0,1 mg/kgBB secara IV atau atrakurium 0,5 mg/kkBB secara IV sudah cukup.

Pada kasus disfungsi otonomik, pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat sangat penting. Untuk terapi farmakologisnya, magnesium sulfat dapat digunakan karena memiliki efek relaksasi, sedatif, dan control terhadap gangguan otonomik. Pemberian magnesium sulfat diawali dengan loading dose sebanyak 5 gram selama 20 menit dan diikuti dengan infus Intravena 2 gram/jam. Hati-hati karena dosis berlebih dapat menyebabkan paralisis dan lemas. Untuk itulah dibutuhkan monitor jumlah serum yang diberikan. Terakhir waspadai terjadinya depresi pernapasan. Apabila terjadi lakukan terapi suportif berupa pembebasan jalan napas, penghisapan lendir untuk mencegah aspirasi serta pemberian oksigen.