MODUL PENGHIDU

A. Skenario


Seorang laki-laki 23 tahun datang ke poli THT dengan nyeri kepala 1 tahun hilang timbul disertai ingus kental kuning kehijauan dan sering jatuh di tenggorokan, dan akhir-akhir ini penghidu rasa berkurang.

B. Kata Sulit

Post nasal drip terjadi ketika berlebihan lendir yang dihasilkan oleh sinus. Kelebihan lendir menumpuk di tenggorokan atau belakang hidung.

Hal ini dapat disebabkan oleh rhinitis (alergi atau non-alergi), sinusitis (akut atau kronis), laryngopharyngeal acid reflux (dengan atau tanpa mulas), atau dengan kelainan menelan (seperti gangguan motilitas esofagus). Hal ini sering disebabkan oleh alergi, yang dapat musiman atau terus-menerus sepanjang tahun, tergantung pada penyebab alergi (s) yang terlibat. Pil KB atau kehamilan juga dapat menyebabkan hidung pasca-tetesan karena peningkatan kadar hormon estrogen

C. Kata Kunci

1.      Laki-laki 23 tahun

2.      Nyeri kepala 1 tahun hilang timbul

3.      Ingus kental kuning kehijauan

4.      Sering jatuh di tenggorokan (Post Nasal Drip)

5.      Hiposmia

D. Pertanyaan

1.      Sebutkan anatomi dan faal hidung?

Faal hidung:

a.      Sebagai fungsi respirasi

b.      Sebagai fungsi penghidu

c.       Sebagai fungsi fonetik

d.      Memberikan refleks nasal

2.      Sebutkan  etiologi rinore?

Jawab:

  • Bakteri seperti  H.influenzae, streptococcus Pneumonia,  Moraxella Catarrhalis
  • Alergen seperti debu, bulu binatang
  • Lingkungan seperti udara dingin

3.      Jelaskan mekanisme rinore?

Jawab:

Mucus dalam jumlah kecil pada hidung bersifat normal untuk membersihkan hidung dari partikel-partikel yang ikut masuk melalui respirasi seperti debu, kotoran, dal lain-lain. Partikel tersebut akan ditangkap oleh mucus yang dikeluarkan oleh sel goblet dan akan dialirkan oleh silia pada mukosa hidung. Jika terjadi terjadi gangguan pada mukosa seperti edema mukosa akan menyebabkan ostium tersumbat karena silia tidak dapat bergerak. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi, mula-mula serous. Bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul merupakan media baik untuk pertumbuhan bakteri. Sekret jadi purulen.

4.      Mengapa ingusnya kental dan kuning kehijauan?

Jawab :

  • Infeksi bakteri berulang
  • Enzim myeloperoksidase, Enzim ini berperan mematikan protein yang t’dpt dlm granula netrofil azurofilik & lisosom monosit utama & b’warna hijau dalam pus

5.      Jelaskan mekanisme hiposmia

Jawab:

Mekanisme penghidu secara fisiologis

Partikel bau yang masuk melalui vestibulum nasi akan ditangkap oleh silia kemudian akan dibawa ke sel-sel olfactorius kemusian akan diteruskan ke GPCR sehingga mengaktivasi cAMP. Setelah teraktivasi cAMP, ion channel akan terbuka sehingga aliran Na meningkat terjadi aksi potensial menimbulkan signal bau yang diteruskan ke bulbus olfactorius kemudian ke tractus olfactorius kemudian ke amigdala (korteks entorial) sehingga terjadilah persepsi bau. Mukus memainkan fungsi penting menangkap molekul-molekul bau dan menghubungkan lebih dari 100 reseptor bau dalam rongga hidung manusia. Lendir tersebut akan menangkap partikel-partikel, seperti debu atau serbuk tanaman, kemudian melarutkannya.

Sebagian dari molekul-molekul yang ditangkapnya akan mengalir hingga ke ujung reseptor indera penciuman. Otak akan menerjemahkan informasi yang diterima dan menerjemahkannya. Makin cepat dan makin lama reseptor menangkap molekul, berarti makin bau sumber molekul tsb

Mukus yang dihasilkan secara normal dihubungkan dengan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Ini juga merupakan suatu cara untuk menyingkirkan benda asing yang mungkin bisa menyebabkan infeksi. Tubuh cenderung untuk merangsang produksi ingus dan mempertinggi pertahanan terhadap serangan hebat menular dari benda-benda tsb

Hiposmia dapat terjadi akibat obstruksi hidung seperti  pada rhinitis alergi, rhinitis vasomotor, rhinitis atrofi, hipertrofi konka, deviasi septum, polip, tumor, abnormalitas development seperti ensefalokel,kista dermoid, pasca laringektomi atau trakheotomi, kesemuanya dapat menyebabkan defek konduktif. Dapat juga terjadi pada beberapa penyakit sistemik seperti diabetes, gagal ginjal, penyakit hati serta pada pemakaian obat seperti antihistamin, dekongestan, antibiotika, antimetabolit, anti peradangan dan anti tiroid, penyebab congenital, trauma kepala, oprasi otak, perdarahan subarachnoid, defisiensi gizi, proses degenerative akan menyebabkan defek sentral/sensorineural.

6.      Mengapa terjadi nyeri kepala hilang timbul?

Jawab:

  • Pengobatan yang tidak adekuat
  • Perubahan posisi tubuh (sinus frontalis)
  • Terpapar alergen berulang

7.      Sebutkan langkah-langkah diagnosis yang harus dilakukan?

Jawaba:

  • Anamnesis yang perlu ditanyakan adalah keluhan utama, onset,durasi,hal apa yang memperberat,apakah dirasakan terus menerus atau hilang timbul, serta gejala penyerta. Seperti pada kasus ini terjadi rinore, tanyakan kepada pasien apakah terdapat riwayat alergi, riwayat penggunaan obat tetes hidung, antihistamin, dll. Tanyakan juga bagaimana sekret hidungnya, serous atau mucopurulen atau bercampur darah. Sekret hidung yang disebabkan karena infeksi hidung biasanya bilateral, jernih, sampai purulen. Sekret yang jernih seperti air dan jumlahnya banyak khas untuk alergi hidung. Bila sekretnya kuning kehijauan biasanya berasal dari sinusitis hidung dan bila bercampur darah dari satu sisi, hati-hati tumor hidung. Tanyakan pula riwayat penyakit sebelumnya, apakah dikeluarganya terdapat hal serupa.
  • Pemeriksaan Fisis

Lakukan inspeksi pada bagian wajah apakah terdapat pembengkakan pada bagian dahi, pipi, ataupun disekitar mata.  Palpasi apakah terdapat nyeri tekan pada bagian tersebut. Lakukan rinoskopi anterior untuk melihat permukaan mukosa hidung apakah terjadi eritema atau tidak.  Lakukan pula rinoskopi posterior untuk melihat nasofaring.

  • Pemeriksaan transiluminasi yang digunakan untuk memeriksa sinus paranasalis dengan menggunakan cahaya biasanya disenter pada bagian infra orbita atau frontal, jika tampak gelap biasanya daerah tersebut terisi pus atau neoplasma.
  • Pemeriksaan Sensorik

Tes Odor stix

Tes alkohol 12 inci

Scratch and sniff card (Kartu gesek dan cium)

Tes UPSIT (Tes ini menggunakan 40 item pilihan-ganda yang berisi bau-bauan scratch and sniff berkapsul mikro)

  • Pemeriksaan penunjang adalah CT-Scan dan MRI

8.      Sebutkan differential diagnosisnya

Sinusitis Rinitis Kronik Polip Cavumnasi
Sex Lk = Prmpuan Lk > Prmpuan Lk = Prmpuan
Age Dpt semua umur Dewasa muda Anak2 > Dewasa
Nyeri Kepala + + +
Rinorea + + +
Warna Sekret Mukopurulen Serous Serous
PND ++ + +
Hiposmia + + +

E. Kesimpulan

Dari Hasil diskusi kelompok kami, kami menetapkan diagnosis Sinusitis.

Pada kasus ini terjadi nyeri kepala yang berulang dan gangguan penghidu yakni hiposmia disebabkan oleh kemungkinan adanya edema mukosa yang dapat menyebabkan gerakan silia untuk mendorong mukosa terhenti sehingga adanya akumulasi mucus yang sangat berpotensi untuk berkembangnya bakteri, mucusnya bersifat mucopurulen yang kental senhingga menghambat partikel bau untuk melekat pada sel-sel olfactorius sehingga terjadi hiposmia. Nyeri kepala dapat disebabkan oleh sekret mucopurulen yang terakumulasi pada sinus sehingga menyebabkan nyeri kepala. \

Penatalaksanaan Sinusitis:

1.      Terapi konservatif

•      Obat dekongestan (obat tetes hidung) untuk memperlancar drenase sekret dari sinus dan   hidung.

•      Antibiotik, diberikan spektrum luas selama 10 atau 14 hari.

•      Obat antialergi.

•      Obat mukolitik, untuk mengencerkan sekret.

•      Analgetik, untuk mengurangi rasa nyeri.

•      Diatermi dengan sinar gelombang pendek (ultra short wave diathermy) selama 10 haru di daerah sinus yang sakit, untuk memperbaiki vaskularisasi sinus.

•      Pungsi dan irigasi sinus maksila dilakukan untuk mengeluarkan sekret yang terkumpul dalam rongga sinus maksila.

2.      Pembedahan radikal

•      Terapi radikal, yaitu mengangkat mukosa yang patologik dan membuat drenase dari sinus yang terkena. Untuk sinus maksila dilakukan operasi Caldwell-Luc. Untuk sinus etmoid dilakukan etmoidektomi yang bisa dilakukan dari dalam hidung (intra-nasal) atau dari luar (ekstranasal).

•      Drenase sekret pada sinus frontal dapat dilakukan dari dalam hidung (intranasal) atau dengan operasi dari luar (ekstranasal), seperti operasi Killian. Drenase sinus sfenoid dilakukan dari dalam hidung  (intranasal).

3.      Pembedahan tidak radikal

Akhir-akhir ini dikembangkan operasi sinus paranasal menggunakan endoskop yang             disebut Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF).

Pencegahan

•         Obati segera bila menderita flu atau pilek alergi

•         Hindari kontak dengan penderita flu, bila telah terjadi kontak fisik, segera cuci tangan.

•         Hindari rokok karena asapnya dapat menyebabkan iritasi mukosa hidung dan sinus.

•         Hindari udara kering, pakailah alat pelembab udara.dirumah atau dikantor

•         Bila menderita alergi, hindari semua barang yang dapat memicu alergi