MODUL JATUH

SKENARIO

Laki-laki 68 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan menurut keluarganya tiba-tiba terpeleset di depan kamar mandi tadi pagi. Setelah itu kedua tungkai tak dapat digerakkan tetapi kalau diraba atau dicubit masih dirasakan oleh penderita.

Sejak seminggu penderita terdengar batuk-batuk dan agak sesak napas serta nafsu makan sangat berkurang tetapi tidak demam. Penderita selama ini mengidap dan minum obat penyakit kencing manis dan tekanan darah tinggi, kedua mata dianjurkan untuk operasi tetapi penderita selalu menolak.

PEMBAHASAN

TEORI-TEORI PROSES MENUA

I.     TEORI “GENETIC CLOCK”

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk species-species tertentu. Tiap species mempunyaii didalam nuclei (inti sel)nya suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar, jadi menurut konsep ini bila jam kita itu berhenti akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang katastrofal.  Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi meski hanya untuk beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obat atau tindakan-tindakan tertentu.

Pengontrolan genetik umur, rupanya dikontrol dalam tingkat seluler. Mengenai hal ini Hayflick (1980) melakukan penelitian melalui kultur sel in vitro yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies.

Untuk membuktikan apakah yang mengontrol replikasi tersebut nukleus atau sitoplasma, maka dilakukanlah transplantasi silang dari nukleus. Dari hasil penelitian tersebut jelas bahwa nukleuslah yang menentukan jumlah replikasi, kemudian menua dan mati, bukan sitoplasmanya (Suhana, 1994).

II. TEORI MUTASI SOMATIK (TEORI ERROR CATASTROPHE)

Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif [ada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut.

Bagaimanakah mekanisme pengontrolan genetik dalam tingkat subselular dan molekular? Salah satu hipotesis yang berhubungan dengan mutasi sel somatik adalah hipotesis “error  catastrophe”

Menurut hipotesis tersebut, menua disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang beruntun sepanjang kehidupan setelah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, terjadi kesalahan dalam proses transkripsi (DNA–>RNA), maupun dalam proses translasi (RNA–> protein/enzim). Kesalahan tersebut akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah, sebagai reaksi dan kesalahan-kesalahan lain yang berkembang secara ekponensial dan akan menyebabkan terjadinya reaksi metabolisme yang salah, sehingga akan mengurangi fungsional sel, walaupun dalam batas-batas tertentu kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan memperbaiki diri sendiri itu sifatnya terbatas pada kesalahan pada proses transkripsi (pembentukan RNA) yang tentu akan menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim, yang dapat menimbulkan metabolit yang berbahaya. Apalagi jika terjadi pula kesalahan dalam proses translasi (pembuatan protein), maka akan terjadilah kesalahn yang makin banyak, sehingga terjadilah katastrop (Suhana, 1994, Constantinides, 1994).

III.             TEORI RUSAKNYA SISTEM IMUN TUBUH

Mutasi yang berulang atau perubahan protein pascatranslasi, dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun (Goldstein, 1989).

Semua sel somatik akan mengalami proses menua, kecuali sel seks dan sel yang mengalami mutasi menjadi kanker. Sel-sel jaringan binatang dewasa juga dapat membagi diri dan memperbaharui diri, kecuali sel neuron, miokardium dan sel ovarium ( Constantinides, 1994).

IV.             TEORI MENUA AKIBAT METABOLISME

Pada tahun 1935, McKay et al. (terdapat dalam Goltein, et al, 1989), memperlihatkan bahwa pengurangan “intake” kalori pada rodentia muda akan mengahmbat pertumbuhan dan memperpanjang umur. Perpanjangan umur karena penurunan jumlah kalori tersebut, antara lin disebabkan karenapenurunan jumlah kalori tersebut, antaralain disebabkan karena menurunnya salahsatu atau beberapa proses metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang merangsang proliferasi sel, misalnya insulin, dan hormon pertumbuhan.

Modifikasi cara hidup yang kurang bergerak menjadi lebih banyak bergerak mungkin juga dapat meningkatkan umur panjang.

V. TEORI KERUSAKAN AKIBAT RADIKAL BEBAS

Radikal bebas (RB) dapat terbentuk dialam bebas, dan di dalam tubuh jika fagosit pecah, dan sebagai produk sampingan di dalam rantai pernafasan di dalam mitokondria (Oen, 1993). Untuk organisme aerobik, RB terutama terbentuk pada waktu respirasi (aerob) didalam mitokondria, karena 90% oksigen yang diambil tubuh, masuk ke dalam mitokondria. Waktu terjadi proses respirasi tersebut oksigen dilibatkan dalam mengubah bahan bakar menjadi ATP, melalui enzim-enzim respirasi didalam mitokondria, maka radikal bebas (RB) akan dihasilkan sebagai zat antara. RB bersifat merusak, karena sangat reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, asam lemak tak jenuh, seperti dalam membaran sel, dan dengan gugus SH.

RB dapat dinetralkan menggunakan senyawa non enzimatik, seperti: vitamin C (asam askorbat), provitamin A (Beta Karoten) dan vitamin E (Tocoperol).

Walaupun telah ada sistem penangkal, namum sebagian RB tetap lolos, bahkan mungkin lanjut usia makin banyak RB terbentuk sehingga proses pengrusakan terus terjadi, kerusakan organel sel makinlama makin banyak dan akhirnya sel mati
(Oen, 1993).

FAKTOR PENYEBAB JATUH

Faktor penyebab jatuh pad lansia biasanya merupakan gabungan beberapa faktor-faktor, antara lain : ( Kane, 1994 ; Reuben, 1996 ; Tinetti, 1992 ; Campbell, 1987 ; Brocklehurst, 1987 ).

1.      Kecelakaan : merupakan faktor penyebab jatuh yang utama bagi lansia, yaitu sekitar 30-50 % kasus jatuh.

q  murni kecelakaan, misalnya karena jatuh terpeleset atau tersandung sesuatu.

q  gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat proses menua, misalnya karena penglihatan pada lansia sudah menurun (mata kurang awas), kemudian menabrak benda-benda yang ada di rumah, sehingga akhirnya jatuh.

2.      Nyeri kepala dan atau vertigo

3.      Hipotensi orthostatik

q  hipovolemia (curah jantung rendah)

q  disfungsi otonom

q  penurunan kembalinya darah vena ke jantung

q  terlalu lama berbaring dan kurang bergerak selama berbaring

q  pengaruh obat-obat hipotensi

q  hipotensi sesudah makan

4.      Obat-obatan :

q  anti hipertensi, misalnya alfa-bloker

q  anti depresan trisiklik

q  sedativa

q  antipsikotik

q  obat-obat hipoglikemik

q  alkohol

5.      Proses penyakit yang spesifik.

Penyakit-penyakit akut seperti :

q  kardiovaskuler   :  –     aritmia

–          stenosis aorta

–          sinkope sinus karotis

q  Neurologi           :  –    TIA

–          stroke

–          serangan kejang

–          Parkinson

–          kompresi saraf spinal karena spondilosis

–          penyakit cerebelum

6.      Idiopatik ( tidak jelas sebabnya )

7.      Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba

drop attack (serangan roboh)

q  penurunan darah ke otak secara tiba-tiba

q  terbakar matahari

8.      Faktor lingkungan :

q  alat-alat atau perabot rumah tangga yang sudah tidak layak pakai karena sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di sembarang tempat.

q  tempat tidur atau jamban yang rendah (jongkok) sehingga menyulitkan lansia ketika akan berdiri.

q  tempat berpegangan yang tidak kuat / susah dipegang :

o   lantai yang tidak datar, baik ada trapnya atau menurun

o   karpet yang kurang baik, sehingga bisa membuat jatuh, keset yang tebal,/menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin dan mudah tergeser.

o   lantai yang licin dan basah yang tidak diperhatikan

o   penerangan yang kurang baik (kurang terang atau terlalu menyilaukan)

o   alat bantu jalan yang ukuran, berat, maupun penggunaannya yang tidak tepat.

9.      Faktor situasional :

q  Aktivitas

sebagian besar lansia jatuh saat melakukan aktivitas biasa seperti berjalan, naik atau turun tangga, dan mengganti posisi. Hanya sedikit (sekitar 5 %) yang jatuh saat melakukan aktivitas berbahaya seperti olahraga berat bahkan mendaki gunung. Sering juga jatuh pada lansia disebabkan karena aktivitas yang berlebihan, mungkin karena kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih banyak. Dapat juga terjadi jatuh pada lansia yang imobil (jarang bergerak) ketika lansia tersebut ingin pindah tempat atau mengambil sesuatu tanpa pertolongan.

q  Lingkungan

Sekitar 70 % jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10 % terjadi di tangga, dengan kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik, yang lainnya terjadi karena tersandung / menabrak benda (perabot rumah) yang tergelatak sembarangan, lantai yang licin atau tidak rata, penerangan yang kurang.

q  Penyakit akut

Dizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut dari penyakit kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan jatuh, misalnya sesak napas akut pada penderita penyakit paru obstruktif menahun, nyeri dada tiba-tiba pada penderita penyakit jantung iskemik, dan lain-lain.

FAKTOR RESIKO JATUH

Untuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh:

1.      Sistem Sensorik

Yang berperan di dalamnya adalah visus (penglihatan), pendengaran, fungsi vestibuler, dan propioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menyebabkan gangguan penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat proses menua. Neuropati perifer dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi propioseptif. Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hamper sepertiga lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.

2.      Sistem saraf pusat (SSP)

SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik. Penyakit SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan normal sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik.

3.      Kognitif

Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya risiko jatuh.

4.      Muskuloskeletal

Faktor ini disebutkan leh beberapa peneliti merupakan faktor yang benar-benar murni milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan musculoskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis. Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan oleh:

  • Kekakuan jaringan penghubung
  • Berkurangnya massa otot
  • Perlambatan konduksi saraf
  • Penurunan visus/lapangan pandang
  • Kerusakan propioseptif

Yang kesemuanya menyebabkan:

  • Penurunan range of motion (ROM) sendi
  • Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah
  • Perpanjangan waktu reaksi
  • Kerusakan persepsi dalam
  • Peningkatan postural sway (goyangan badan)

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah. Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah/terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset, tersandung, kejadian tiba-tiba, sehingga memudahkan jatuh.

Secara singkat faktor risiko jatuh pada lansia dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:

1)      Faktor-faktor intrinsic (faktor dari dalam)

2)      Faktor-faktor ekstrinsik (faktor dari luar)

Faktor Intrinsik                                                                           Faktor ekstrinsik

KONDISI FISIK DAN NEUROPSIKIATRIK
OBAT-OBATAN YANG DIMINUM

AKIBAT JATUH PADA LANSIA

Akibat jatuh pada lansia adalah :

1. Rusaknya jaringan

2. Fraktur pelvis, femur

3. Perawatan di rumah sakit

4. Jatuh menyebabkan penurunan kepercayaan diri sehingga mengurangi gerak

5. Kematian

PENYEBAB TUNGKAI TIDAK DAPAT DIGERAKKAN

Pada kasus ini pasien dinyatakan jatuh terpeleset. Mekanisme trauma Seseorang yang jatuh terpeleset kemungkinan bisa ke depan atau ke belakang. Jika jatuh ke depan maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas sebagai akibat menahan tubuh dengan tangan. Sedangkan jika jatuh ke belakang maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas atau cidera tulang belakang (vertebra).

Pada kasus ini tidak dikeluhkan adanya trauma capitis atau cidera ekstremitas atas, cidera yang terjadi hanya berupa tungkai yang tidak dapat digerakkan tapi masih berasa. Ini berarti bahwa kemungkinan yang mengalami gangguan adalah persarafan motorik tungkai tersebut sementara saraf sensoriknya masih berfungsi dengan baik.

Secara anatomis tungkai (ekstremitas bawah) dipersarafi oleh serabut saraf dari vertebra segmen lumbal dan sacral.  Jadi kemungkinan besar ketika terjatuh, pasien tersebut mengalami trauma vertebra segmen lumbal-sakral yang mengakibatkan tertekannya ramus-ramus saraf di cornu anterior atau bagian dari kornu anterior dari segmen lunbosakral tersebut yang tertekan  yang berfungsi sebagai saraf motorik pada kedua tungkai yang mengakibatkan tungkai tidak dapat digerakkan.

PEMERIKSAAN YANG PERLU DILAKUKAN

Pada pasien geriatri/usia lanjut, kita harus melakukan pemeriksaan/assesmen secara holistik/paripurna, berkesinambungan dan tepat. Dengan maksud agar dapat meninjau keseluruhan dari gangguan fisisnya, psikososial dan juga gangguan fungsional sehingga nantinya dapat mengidentifikasikan masalah tersebut termasuk mengidentifikasikan faktor resiko yang berperan serta kemudian merencanakan penatalaksanaan menyeluruh dengan penekanan pada kemampuan fungsional pasien atau setidaknya memberikan perhatian yang sama dengan diagnosis dan pengobatan penyakit sebab kompleksitas masalah pada usia lanjut dapat meningkatkan resiko iatrogenik.. ( 1 : 267 )

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :

A.    Anamnesa riwayat penyakit (jatuhnya)

Anamnesa dibuat baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau keluarganya. Anamnesis ini meliputi :

  1. Seputar jatuhnya : mencari penyebab jatuhnya misalnya apa karena terpeleset, tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, waktu mau berdiri dari jongkok atau sebaliknya, sedang buang air kecil atau besar, sedang batuk atau bersin, sedang menolwh tiba-tiba ataupun aktivitas lainnya.
  2. Gejala yang menyertai : seperti nyeri dada, berdebar-debar, nyeri kepala tiba-tiba, vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak nafas.
  3. Kondisi komorbid yang relevan : pernah menderita hipertensi, diabetes mellitus, stroke, parkinsonisme, osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi, deficit rematik dll
  4. Review obat-obatan yang diminum : anti hipertensi ( alfa inhibitor non spesifik dll ), diuretic, autonomic bloker, anti depresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik, psikotropik, ACE inhibitor dll
  5. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh apakah licin/bertingkat-tingkat dan tidak datar, pencahayaannya dll

B.     Pemeriksaan Fisis

1.      Mengukur tanda vitalnya : Tekanan darah (tensi), nadi, pernafasan(respirasinya) dan suhu badannya (panas/hipotermi)

2.      Kepala dan leher : apakah terdapat penurunan visus, penurunan pendengaran, nistagmus, gerakan yang menginduksi ketidakseimbangan, bising.

3.      Pemeriksaan jantung : kelainan katup, aritmia, stenosis aorta, sinkope sinus carotis dll

4.      Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer, kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor, dll

5.      Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi, problem kaki (podiatrik), deformitas dll

C.     Assesmen Fungsionalnya

Seyogyanya dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebiasaan pasien dan aspek fungsionalnya dalam lingkungannya, ini sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan. Pada assesmen fungsional dilakukan observasi atau pencarian terhadap :

1.      Fungsi gait dan keseimbangan : observasi pasien ketika bangkit dari duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan, ketika mau duduk dibawah dll.

2.      Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat Bantu ( kursi roda, tripod, tongkat dll) atau dibantu berjalan oleh keluarganya.

3.      Aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakaian, berpergian, kontinens. Terutama kehidupannya dalam keluarga dan lingkungan sekitar ( untuk mendeteksi juga apakah terdapat depresi dll )                                      ( 2 : 168 )

PENANGANAN JATUH PADA LANSIA

a. Operasi.

Jika pada pemeriksaan radiologis ditemukan adanya fraktur yang disebabkan karena pasien terjatuh ( terpeleset ) khususnya fraktur tulang belakang yang mengakibatkan kompresi pada saraf sehingga kedua tungkai tidak dapat digerakkan,merupakan indikasi untuk dilakukan operasi mis: fiksasi internal nerve root,spinal cord.

b. Hospitalisasi (perawatan di rumah sakit).

Hal ini bertujuan untuk memudahkan penanganan pasien khususnya dengan fraktur akut ( immobilisasi ) yang beresiko tinggi yang juga disertai dengan penyakit kronik,yang membutuhkan perawatan intensif..

c. Operasi mata ( operasi katarak).

Gangguan penglihatan pada pasien ini kemungkinan besar berupa katarak senilis. Operasi dapat dilakukan jika pasien & keluarganya menyetujui dan kondisi kesehatan pasien memungkinkan. Tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang selama ini terganggu akibat gangguan penglihatan ( kemungkinan salah satu penyebab pasien terjatuh ).

Indikasi operasi katarak :

–          Gangguan penglihatan dengan Snellen aquity ( visus ) 20/50 atau dibawahnya.

–          Ketidakmampuan salah satu mata untuk melihat.

Kontraindikasi :

–          Jika penglihatan pasien dapat dikoreksi dengan penggunaan kaca mata atau alat bantu lainnya.

–          Kondisi kesehatan pasien tidak memungkinkan.

d. Fisioterapi.

Setelah dilakukan tindakan operasi untuk mengatasi fraktur dibutuhkan fisioterapi ( rehabilitasi ) yang penting untuk mengembalikan fungsi alat gerak dan mengurangi disabilitas selama masa penyembuhan. Penggunaan alat bantu berjalan misalnya tongkat biasanya dibutuhkan untuk membantu permulaan berjalan kembali dan untuk mendukung aktifitas sehari-hari lainnya.

e. Perbaikan status gizi.

Penyusunan menu disesuaikan dengan kebutuhan kalori pasien setiap harinya dan kemampuan untuk mencerna makanan. Pemberian makanan diberikan secara bertahap.dimulai dengan porsi kecil tetapi sesering mungkin diberikan.

f. Kontrol penyakit dan penggunaan obat-obatan.

Hindari polifarmasi yang justru lebih banyak menimbulkan efek samping,khususnya pada pasien beresiko tinggi.

g. Pendidikan keluarga.

Jika fraktur yang diderita oleh pasien mengharuskan immobilisasi untuk beberapa lama.keluarga harus senantiasa mengawasi,merawat pasien dengan mencegah pasien terlalu banyak berbaring ( posisi diubah-ubah ) untuk mencegah dekubitus dan penyakit iatrogenik. Berikan perhatian dan kasih sayang agar pasien tidak merasa terisolasi dan depresi.

PENCEGAHAN

Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan.

Ada 3 usaha pokjok untuk pencegahan ini, antara lain:

  1. Identifikasi faktor resiko

Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor intrinsik resiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari/menyebabkan jatuh.

Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah hartus cukup tapi tidak menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk, dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaikknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan/tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.

  1. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan

Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimabangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural sway sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat beresiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan(gait) juga harus dilakukan dengan cermat, apakah penderita menapakkan kakinya dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat kelainan/penurunan.

  1. Mengatur/mengatasi fakor situsional

Faktor situasional yang bersifat serangan akut/eksaserbasi akut penyakit yang diderita lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan seperti tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat diatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktivitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktivitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau beresiko tinggi untuk terjadinya jatuh.

DAFTAR PUSTAKA

1.      H Slamet Suyono, SpPD,KE. Prof. Dr. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

2. Boedhi, Darmojo, R. 2004. Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut ) edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

3. Adelman,M,Alan.Daly,P,Mel.20 Common Problems In Geriatrics.2001.Mc GRAW-HILL INTERNATIONAL EDITION.

SKENARIO

Laki-laki 68 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan menurut keluarganya tiba-tiba terpeleset di depan kamar mandi tadi pagi. Setelah itu kedua tungkai tak dapat digerakkan tetapi kalau diraba atau dicubit masih dirasakan oleh penderita.

Sejak seminggu penderita terdengar batuk-batuk dan agak sesak napas serta nafsu makan sangat berkurang tetapi tidak demam. Penderita selama ini mengidap dan minum obat penyakit kencing manis dan tekanan darah tinggi, kedua mata dianjurkan untuk operasi tetapi penderita selalu menolak.

PEMBAHASAN

TEORI-TEORI PROSES MENUA

I.     TEORI “GENETIC CLOCK”

Menurut teori ini menua telah terprogram secara genetik untuk species-species tertentu. Tiap species mempunyaii didalam nuclei (inti sel)nya suatu jam genetik yang telah diputar menurut suatu replikasi tertentu. Jam ini akan menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar, jadi menurut konsep ini bila jam kita itu berhenti akan meninggal dunia, meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir yang katastrofal.  Secara teoritis dapat dimungkinkan memutar jam ini lagi meski hanya untuk beberapa waktu dengan pengaruh-pengaruh dari luar, berupa peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dengan obat-obat atau tindakan-tindakan tertentu.

Pengontrolan genetik umur, rupanya dikontrol dalam tingkat seluler. Mengenai hal ini Hayflick (1980) melakukan penelitian melalui kultur sel in vitro yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kemampuan membelah sel dalam kultur dengan umur spesies.

Untuk membuktikan apakah yang mengontrol replikasi tersebut nukleus atau sitoplasma, maka dilakukanlah transplantasi silang dari nukleus. Dari hasil penelitian tersebut jelas bahwa nukleuslah yang menentukan jumlah replikasi, kemudian menua dan mati, bukan sitoplasmanya (Suhana, 1994).

II. TEORI MUTASI SOMATIK (TEORI ERROR CATASTROPHE)

Menurut teori ini terjadinya mutasi yang progresif [ada DNA sel somatik, akan menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan fungsional sel tersebut.

Bagaimanakah mekanisme pengontrolan genetik dalam tingkat subselular dan molekular? Salah satu hipotesis yang berhubungan dengan mutasi sel somatik adalah hipotesis “error  catastrophe”

Menurut hipotesis tersebut, menua disebabkan oleh kesalahan-kesalahan yang beruntun sepanjang kehidupan setelah berlangsung dalam waktu yang cukup lama, terjadi kesalahan dalam proses transkripsi (DNA–>RNA), maupun dalam proses translasi (RNA–> protein/enzim). Kesalahan tersebut akan menyebabkan terbentuknya enzim yang salah, sebagai reaksi dan kesalahan-kesalahan lain yang berkembang secara ekponensial dan akan menyebabkan terjadinya reaksi metabolisme yang salah, sehingga akan mengurangi fungsional sel, walaupun dalam batas-batas tertentu kesalahan dalam pembentukan RNA dapat diperbaiki, namun kemampuan memperbaiki diri sendiri itu sifatnya terbatas pada kesalahan pada proses transkripsi (pembentukan RNA) yang tentu akan menyebabkan kesalahan sintesis protein atau enzim, yang dapat menimbulkan metabolit yang berbahaya. Apalagi jika terjadi pula kesalahan dalam proses translasi (pembuatan protein), maka akan terjadilah kesalahn yang makin banyak, sehingga terjadilah katastrop (Suhana, 1994, Constantinides, 1994).

III.             TEORI RUSAKNYA SISTEM IMUN TUBUH

Mutasi yang berulang atau perubahan protein pascatranslasi, dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ini dapat menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. Perubahan inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun (Goldstein, 1989).

Semua sel somatik akan mengalami proses menua, kecuali sel seks dan sel yang mengalami mutasi menjadi kanker. Sel-sel jaringan binatang dewasa juga dapat membagi diri dan memperbaharui diri, kecuali sel neuron, miokardium dan sel ovarium ( Constantinides, 1994).

IV.             TEORI MENUA AKIBAT METABOLISME

Pada tahun 1935, McKay et al. (terdapat dalam Goltein, et al, 1989), memperlihatkan bahwa pengurangan “intake” kalori pada rodentia muda akan mengahmbat pertumbuhan dan memperpanjang umur. Perpanjangan umur karena penurunan jumlah kalori tersebut, antara lin disebabkan karenapenurunan jumlah kalori tersebut, antaralain disebabkan karena menurunnya salahsatu atau beberapa proses metabolisme. Terjadi penurunan pengeluaran hormon yang merangsang proliferasi sel, misalnya insulin, dan hormon pertumbuhan.

Modifikasi cara hidup yang kurang bergerak menjadi lebih banyak bergerak mungkin juga dapat meningkatkan umur panjang.

V. TEORI KERUSAKAN AKIBAT RADIKAL BEBAS

Radikal bebas (RB) dapat terbentuk dialam bebas, dan di dalam tubuh jika fagosit pecah, dan sebagai produk sampingan di dalam rantai pernafasan di dalam mitokondria (Oen, 1993). Untuk organisme aerobik, RB terutama terbentuk pada waktu respirasi (aerob) didalam mitokondria, karena 90% oksigen yang diambil tubuh, masuk ke dalam mitokondria. Waktu terjadi proses respirasi tersebut oksigen dilibatkan dalam mengubah bahan bakar menjadi ATP, melalui enzim-enzim respirasi didalam mitokondria, maka radikal bebas (RB) akan dihasilkan sebagai zat antara. RB bersifat merusak, karena sangat reaktif, sehingga dapat bereaksi dengan DNA, protein, asam lemak tak jenuh, seperti dalam membaran sel, dan dengan gugus SH.

RB dapat dinetralkan menggunakan senyawa non enzimatik, seperti: vitamin C (asam askorbat), provitamin A (Beta Karoten) dan vitamin E (Tocoperol).

Walaupun telah ada sistem penangkal, namum sebagian RB tetap lolos, bahkan mungkin lanjut usia makin banyak RB terbentuk sehingga proses pengrusakan terus terjadi, kerusakan organel sel makinlama makin banyak dan akhirnya sel mati
(Oen, 1993).

FAKTOR PENYEBAB JATUH

Faktor penyebab jatuh pad lansia biasanya merupakan gabungan beberapa faktor-faktor, antara lain : ( Kane, 1994 ; Reuben, 1996 ; Tinetti, 1992 ; Campbell, 1987 ; Brocklehurst, 1987 ).

1.      Kecelakaan : merupakan faktor penyebab jatuh yang utama bagi lansia, yaitu sekitar 30-50 % kasus jatuh.

q  murni kecelakaan, misalnya karena jatuh terpeleset atau tersandung sesuatu.

q  gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat proses menua, misalnya karena penglihatan pada lansia sudah menurun (mata kurang awas), kemudian menabrak benda-benda yang ada di rumah, sehingga akhirnya jatuh.

2.      Nyeri kepala dan atau vertigo

3.      Hipotensi orthostatik

q  hipovolemia (curah jantung rendah)

q  disfungsi otonom

q  penurunan kembalinya darah vena ke jantung

q  terlalu lama berbaring dan kurang bergerak selama berbaring

q  pengaruh obat-obat hipotensi

q  hipotensi sesudah makan

4.      Obat-obatan :

q  anti hipertensi, misalnya alfa-bloker

q  anti depresan trisiklik

q  sedativa

q  antipsikotik

q  obat-obat hipoglikemik

q  alkohol

5.      Proses penyakit yang spesifik.

Penyakit-penyakit akut seperti :

q  kardiovaskuler   :  –     aritmia

–          stenosis aorta

–          sinkope sinus karotis

q  Neurologi           :  –    TIA

–          stroke

–          serangan kejang

–          Parkinson

–          kompresi saraf spinal karena spondilosis

–          penyakit cerebelum

6.      Idiopatik ( tidak jelas sebabnya )

7.      Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba

drop attack (serangan roboh)

q  penurunan darah ke otak secara tiba-tiba

q  terbakar matahari

8.      Faktor lingkungan :

q  alat-alat atau perabot rumah tangga yang sudah tidak layak pakai karena sudah tua, tidak stabil, atau tergeletak di sembarang tempat.

q  tempat tidur atau jamban yang rendah (jongkok) sehingga menyulitkan lansia ketika akan berdiri.

q  tempat berpegangan yang tidak kuat / susah dipegang :

o   lantai yang tidak datar, baik ada trapnya atau menurun

o   karpet yang kurang baik, sehingga bisa membuat jatuh, keset yang tebal,/menekuk pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin dan mudah tergeser.

o   lantai yang licin dan basah yang tidak diperhatikan

o   penerangan yang kurang baik (kurang terang atau terlalu menyilaukan)

o   alat bantu jalan yang ukuran, berat, maupun penggunaannya yang tidak tepat.

9.      Faktor situasional :

q  Aktivitas

sebagian besar lansia jatuh saat melakukan aktivitas biasa seperti berjalan, naik atau turun tangga, dan mengganti posisi. Hanya sedikit (sekitar 5 %) yang jatuh saat melakukan aktivitas berbahaya seperti olahraga berat bahkan mendaki gunung. Sering juga jatuh pada lansia disebabkan karena aktivitas yang berlebihan, mungkin karena kelelahan atau terpapar bahaya yang lebih banyak. Dapat juga terjadi jatuh pada lansia yang imobil (jarang bergerak) ketika lansia tersebut ingin pindah tempat atau mengambil sesuatu tanpa pertolongan.

q  Lingkungan

Sekitar 70 % jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10 % terjadi di tangga, dengan kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik, yang lainnya terjadi karena tersandung / menabrak benda (perabot rumah) yang tergelatak sembarangan, lantai yang licin atau tidak rata, penerangan yang kurang.

q  Penyakit akut

Dizzines dan syncope, sering menyebabkan jatuh. Eksaserbasi akut dari penyakit kronik yang diderita lansia juga sering menyebabkan jatuh, misalnya sesak napas akut pada penderita penyakit paru obstruktif menahun, nyeri dada tiba-tiba pada penderita penyakit jantung iskemik, dan lain-lain.

FAKTOR RESIKO JATUH

Untuk dapat memahami faktor risiko jatuh, maka harus dimengerti bahwa stabilitas badan ditentukan atau dibentuk oleh:

1.      Sistem Sensorik

Yang berperan di dalamnya adalah visus (penglihatan), pendengaran, fungsi vestibuler, dan propioseptif. Semua gangguan atau perubahan pada mata akan menyebabkan gangguan penglihatan. Semua penyakit telinga akan menimbulkan gangguan pendengaran. Vertigo tipe perifer sering terjadi pada lansia yang diduga karena adanya perubahan fungsi vestibuler akibat proses menua. Neuropati perifer dan penyakit degeneratif leher akan mengganggu fungsi propioseptif. Gangguan sensorik tersebut menyebabkan hamper sepertiga lansia mengalami sensasi abnormal pada saat dilakukan uji klinik.

2.      Sistem saraf pusat (SSP)

SSP akan memberikan respon motorik untuk mengantisipasi input sensorik. Penyakit SSP seperti stroke, Parkinson, hidrosefalus tekanan normal sering diderita oleh lansia dan menyebabkan gangguan fungsi SSP sehingga berespon tidak baik terhadap input sensorik.

3.      Kognitif

Pada beberapa penelitian, demensia diasosiasikan dengan meningkatnya risiko jatuh.

4.      Muskuloskeletal

Faktor ini disebutkan leh beberapa peneliti merupakan faktor yang benar-benar murni milik lansia yang berperan besar terhadap terjadinya jatuh. Gangguan musculoskeletal menyebabkan gangguan gaya berjalan (gait) dan ini berhubungan dengan proses menua yang fisiologis. Gangguan gait yang terjadi akibat proses menua tersebut antara lain disebabkan oleh:

  • Kekakuan jaringan penghubung
  • Berkurangnya massa otot
  • Perlambatan konduksi saraf
  • Penurunan visus/lapangan pandang
  • Kerusakan propioseptif

Yang kesemuanya menyebabkan:

  • Penurunan range of motion (ROM) sendi
  • Penurunan kekuatan otot, terutama menyebabkan kelemahan ekstremitas bawah
  • Perpanjangan waktu reaksi
  • Kerusakan persepsi dalam
  • Peningkatan postural sway (goyangan badan)

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak dapat menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah. Perlambatan reaksi mengakibatkan seorang lansia susah/terlambat mengantisipasi bila terjadi gangguan seperti terpeleset, tersandung, kejadian tiba-tiba, sehingga memudahkan jatuh.

Secara singkat faktor risiko jatuh pada lansia dibagi dalam dua golongan besar, yaitu:

1)      Faktor-faktor intrinsic (faktor dari dalam)

2)      Faktor-faktor ekstrinsik (faktor dari luar)

Faktor Intrinsik                                                                           Faktor ekstrinsik

KONDISI FISIK DAN NEUROPSIKIATRIK
OBAT-OBATAN YANG DIMINUM

AKIBAT JATUH PADA LANSIA

Akibat jatuh pada lansia adalah :

1. Rusaknya jaringan

2. Fraktur pelvis, femur

3. Perawatan di rumah sakit

4. Jatuh menyebabkan penurunan kepercayaan diri sehingga mengurangi gerak

5. Kematian

PENYEBAB TUNGKAI TIDAK DAPAT DIGERAKKAN

Pada kasus ini pasien dinyatakan jatuh terpeleset. Mekanisme trauma Seseorang yang jatuh terpeleset kemungkinan bisa ke depan atau ke belakang. Jika jatuh ke depan maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas sebagai akibat menahan tubuh dengan tangan. Sedangkan jika jatuh ke belakang maka kemungkinan akan mengalami trauma capitis atau cidera ekstremitas atas atau cidera tulang belakang (vertebra).

Pada kasus ini tidak dikeluhkan adanya trauma capitis atau cidera ekstremitas atas, cidera yang terjadi hanya berupa tungkai yang tidak dapat digerakkan tapi masih berasa. Ini berarti bahwa kemungkinan yang mengalami gangguan adalah persarafan motorik tungkai tersebut sementara saraf sensoriknya masih berfungsi dengan baik.

Secara anatomis tungkai (ekstremitas bawah) dipersarafi oleh serabut saraf dari vertebra segmen lumbal dan sacral.  Jadi kemungkinan besar ketika terjatuh, pasien tersebut mengalami trauma vertebra segmen lumbal-sakral yang mengakibatkan tertekannya ramus-ramus saraf di cornu anterior atau bagian dari kornu anterior dari segmen lunbosakral tersebut yang tertekan  yang berfungsi sebagai saraf motorik pada kedua tungkai yang mengakibatkan tungkai tidak dapat digerakkan.

PEMERIKSAAN YANG PERLU DILAKUKAN

Pada pasien geriatri/usia lanjut, kita harus melakukan pemeriksaan/assesmen secara holistik/paripurna, berkesinambungan dan tepat. Dengan maksud agar dapat meninjau keseluruhan dari gangguan fisisnya, psikososial dan juga gangguan fungsional sehingga nantinya dapat mengidentifikasikan masalah tersebut termasuk mengidentifikasikan faktor resiko yang berperan serta kemudian merencanakan penatalaksanaan menyeluruh dengan penekanan pada kemampuan fungsional pasien atau setidaknya memberikan perhatian yang sama dengan diagnosis dan pengobatan penyakit sebab kompleksitas masalah pada usia lanjut dapat meningkatkan resiko iatrogenik.. ( 1 : 267 )

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi :

A.    Anamnesa riwayat penyakit (jatuhnya)

Anamnesa dibuat baik terhadap penderita ataupun saksi mata jatuh atau keluarganya. Anamnesis ini meliputi :

  1. Seputar jatuhnya : mencari penyebab jatuhnya misalnya apa karena terpeleset, tersandung, berjalan, perubahan posisi badan, waktu mau berdiri dari jongkok atau sebaliknya, sedang buang air kecil atau besar, sedang batuk atau bersin, sedang menolwh tiba-tiba ataupun aktivitas lainnya.
  2. Gejala yang menyertai : seperti nyeri dada, berdebar-debar, nyeri kepala tiba-tiba, vertigo, pingsan, lemas, konfusio, inkontinens, sesak nafas.
  3. Kondisi komorbid yang relevan : pernah menderita hipertensi, diabetes mellitus, stroke, parkinsonisme, osteoporosis, sering kejang, penyakit jantung, rematik, depresi, deficit rematik dll
  4. Review obat-obatan yang diminum : anti hipertensi ( alfa inhibitor non spesifik dll ), diuretic, autonomic bloker, anti depresan, hipnotik, anxiolitik, analgetik, psikotropik, ACE inhibitor dll
  5. Review keadaan lingkungan : tempat jatuh apakah licin/bertingkat-tingkat dan tidak datar, pencahayaannya dll

B.     Pemeriksaan Fisis

1.      Mengukur tanda vitalnya : Tekanan darah (tensi), nadi, pernafasan(respirasinya) dan suhu badannya (panas/hipotermi)

2.      Kepala dan leher : apakah terdapat penurunan visus, penurunan pendengaran, nistagmus, gerakan yang menginduksi ketidakseimbangan, bising.

3.      Pemeriksaan jantung : kelainan katup, aritmia, stenosis aorta, sinkope sinus carotis dll

4.      Neurologi : perubahan status mental, defisit fokal, neuropati perifer, kelemahan otot, instabilitas, kekakuan, tremor, dll

5.      Muskuloskeletal : perubahan sendi, pembatasan gerak sendi, problem kaki (podiatrik), deformitas dll

C.     Assesmen Fungsionalnya

Seyogyanya dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut tentang kebiasaan pasien dan aspek fungsionalnya dalam lingkungannya, ini sangat bermanfaat untuk mencegah terjadinya jatuh ulangan. Pada assesmen fungsional dilakukan observasi atau pencarian terhadap :

1.      Fungsi gait dan keseimbangan : observasi pasien ketika bangkit dari duduk dikursi, ketika berjalan, ketika membelok atau berputar badan, ketika mau duduk dibawah dll.

2.      Mobilitas : dapat berjalan sendiri tanpa bantuan, menggunakan alat Bantu ( kursi roda, tripod, tongkat dll) atau dibantu berjalan oleh keluarganya.

3.      Aktifitas kehidupan sehari-hari : mandi, berpakaian, berpergian, kontinens. Terutama kehidupannya dalam keluarga dan lingkungan sekitar ( untuk mendeteksi juga apakah terdapat depresi dll )                                      ( 2 : 168 )

PENANGANAN JATUH PADA LANSIA

a. Operasi.

Jika pada pemeriksaan radiologis ditemukan adanya fraktur yang disebabkan karena pasien terjatuh ( terpeleset ) khususnya fraktur tulang belakang yang mengakibatkan kompresi pada saraf sehingga kedua tungkai tidak dapat digerakkan,merupakan indikasi untuk dilakukan operasi mis: fiksasi internal nerve root,spinal cord.

b. Hospitalisasi (perawatan di rumah sakit).

Hal ini bertujuan untuk memudahkan penanganan pasien khususnya dengan fraktur akut ( immobilisasi ) yang beresiko tinggi yang juga disertai dengan penyakit kronik,yang membutuhkan perawatan intensif..

c. Operasi mata ( operasi katarak).

Gangguan penglihatan pada pasien ini kemungkinan besar berupa katarak senilis. Operasi dapat dilakukan jika pasien & keluarganya menyetujui dan kondisi kesehatan pasien memungkinkan. Tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien yang selama ini terganggu akibat gangguan penglihatan ( kemungkinan salah satu penyebab pasien terjatuh ).

Indikasi operasi katarak :

–          Gangguan penglihatan dengan Snellen aquity ( visus ) 20/50 atau dibawahnya.

–          Ketidakmampuan salah satu mata untuk melihat.

Kontraindikasi :

–          Jika penglihatan pasien dapat dikoreksi dengan penggunaan kaca mata atau alat bantu lainnya.

–          Kondisi kesehatan pasien tidak memungkinkan.

d. Fisioterapi.

Setelah dilakukan tindakan operasi untuk mengatasi fraktur dibutuhkan fisioterapi ( rehabilitasi ) yang penting untuk mengembalikan fungsi alat gerak dan mengurangi disabilitas selama masa penyembuhan. Penggunaan alat bantu berjalan misalnya tongkat biasanya dibutuhkan untuk membantu permulaan berjalan kembali dan untuk mendukung aktifitas sehari-hari lainnya.

e. Perbaikan status gizi.

Penyusunan menu disesuaikan dengan kebutuhan kalori pasien setiap harinya dan kemampuan untuk mencerna makanan. Pemberian makanan diberikan secara bertahap.dimulai dengan porsi kecil tetapi sesering mungkin diberikan.

f. Kontrol penyakit dan penggunaan obat-obatan.

Hindari polifarmasi yang justru lebih banyak menimbulkan efek samping,khususnya pada pasien beresiko tinggi.

g. Pendidikan keluarga.

Jika fraktur yang diderita oleh pasien mengharuskan immobilisasi untuk beberapa lama.keluarga harus senantiasa mengawasi,merawat pasien dengan mencegah pasien terlalu banyak berbaring ( posisi diubah-ubah ) untuk mencegah dekubitus dan penyakit iatrogenik. Berikan perhatian dan kasih sayang agar pasien tidak merasa terisolasi dan depresi.

PENCEGAHAN

Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila sudah terjadi jatuh pasti terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan.

Ada 3 usaha pokjok untuk pencegahan ini, antara lain:

  1. Identifikasi faktor resiko

Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor intrinsik resiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologik, muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari/menyebabkan jatuh.

Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus dihilangkan. Penerangan rumah hartus cukup tapi tidak menyilaukan. Lantai rumah datar, tidak licin, bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga yang sudah tidak aman (lapuk, dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti, peralatan rumah ini sebaikknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu jalan/tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin, sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC sebaiknya dengan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding.

  1. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan

Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimabangan badannya dalam melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural sway sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Bila goyangan badan pada saat berjalan sangat beresiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan(gait) juga harus dilakukan dengan cermat, apakah penderita menapakkan kakinya dengan baik, tidak mudah goyah, apakah penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu harus dikoreksi bila terdapat kelainan/penurunan.

  1. Mengatur/mengatasi fakor situsional

Faktor situasional yang bersifat serangan akut/eksaserbasi akut penyakit yang diderita lansia secara periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan mengusahakan perbaikan lingkungan seperti tersebut diatas. Faktor situasional yang berupa aktifitas fisik dapat diatasi sesuai dengan kondisi kesehatan penderita. Perlu diberitahukan pada penderita aktivitas fisik seberapa jauh yang aman bagi penderita, aktivitas tersebut tidak boleh melampaui batasan yang diperbolehkan baginya sesuai hasil pemeriksaan kondisi fisik. Bila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik, maka dianjurkan lansia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau beresiko tinggi untuk terjadinya jatuh.

DAFTAR PUSTAKA

1.      H Slamet Suyono, SpPD,KE. Prof. Dr. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid II. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

2. Boedhi, Darmojo, R. 2004. Buku Ajar Geriatri ( Ilmu Kesehatan Usia Lanjut ) edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

3. Adelman,M,Alan.Daly,P,Mel.20 Common Problems In Geriatrics.2001.Mc GRAW-HILL INTERNATIONAL EDITION.