MENGATASI PERILAKU AGRESIF SI KECIL


Jika perilaku agresif anak tidak berasal dari meniru Anda atau pengasuhnya, Anda perlu mencoba mencari penyebabnya. Sebuah penelitian membuktikan bahwa acara televisi mampu ditangkap oleh anak sejak dia berusia 19 bulan. Acara televisi itupun mampu memberinya ide untuk menggunakan cara yang sama dengan yang digunakan oleh tokoh yang di lihatnya di layar kaca, dalam mengekspresikan kemarahan.
Jika anak meniru adegan yang ditontonnya di layar kaca, katakan dengan tegas bahwa hal itu tidak boleh dilakukan. Jelaskan bahwa kemarahan yang diungkapkan lewat serangan merupakan perilaku yang tidak dapat diterima oleh semua orang. Ucapkan pesan ini secara berulang-ulang agar pesan itu dipahami benar oleh anak.
Beri perhatian yang besar kepada perilaku positif anak. Menggigit, memukul, atau tindakan agresif bisa menjadi cara anak untuk mencari perhatian Anda. Mungkin Anda cenderung tidak memperhatikannya atau menghargainya meski dia telah berkelakuan baik. Beri pujian, senyuman, pelukan dan belaian. Dengan hadiah semacam ini biasanya anak menjadi lebih tenang dan tidak berusaha mencari-cari perhatian.
Dukunglah anak Anda untuk menerjemahkan perasaannya melalui kata-kata. Kemarahan, kekecewaan, kecemburuan, sedih dan takut atau cemas merupakan terjemahan perasaan campur aduk yang kerap dirasakan anak selama menjalani tahun kedua dalam hidupnya. Bantu anak untuk belajar mengungkapkan perasaannya dan bantulah dia untuk menghindari emosi melalui tindakan agresif.
Kenali dan pelajari hal-hal yang dapat memicu sifat agresif anak. Kelelahan juga bisa dapat memicunya. Untuk itu aturlah jadwal harian anak, seleksi kegiatan apa saja yang dapat membuat anak terlalu lelah. Rencanakan waktu mainnya dengan tepat.
Minimalkan kemungkinan munculnya rasa frustasi pada anak dengan mengajarkan bersosialisasi, keterampilan berpakaian, keterampilan bermain, makan sendiri, dan keterampilan lainnya. Keterampilan yang tidak dikuasainya bisa menimbulkan rasa frustasi yang dapat ditunjukkan dalam bentuk perilaku agresif. Mengajarkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan si kecil dalam kehidupan sehari-hari, tidak saja akan menekan perasaan frustasinya, tetapi juga akan menekan kecenderungannya untuk menyerang.