BUPRENORPHINE DALAM PENGOBATAN ADIKSI

Buprenorphine Kejutan Baru Dalam Pengobatan Adiksi Obat

Ian Mundell

Pendahuluan


Pemberian heroin pada pencandu dengan suatu pengendalian yang ketat yang diikuti oleh suatu periode penghambatan receptor µ-opioid, dimana selama pemberian opiate ini tidak memberikan pengaruh, dapat dilakukan pengobatan adiksi. Obat yang mampu menghasilkan pengaruh yang demikian adalah buprenorphine yang baru-baru ini ditemukan dalam klas yang dikenal sebagai codeinones. Percobaan klinik dalam skala besar terhadap buprenorphine yang dibiayai oleh US National Institute on Drug Addiction (NIDA), yang sekarang sedang berlangsung. Keberhasilan yang dicapai akan memberikan kepercayaan terhadap kemampuan NIDA untuk mengembangkan pengobatan baru dan membuka jalan bagi perkembangan codeinones selanjutnya.

Munculnya AIDS telah menambah pentingnya pengendalian adiksi heroin yang berhubungan dengan praktek injeksi. Namun ini tidak menarik bagi perusahaan investasi obat-obatan : potensi pengembalian modal yang kecil dan perusahaan tersebut akan memperoleh reputasi yang buruk jika para pencandu menemukan cara penyalah gunaan obat tersebut.

Konsekwensinya, NIDA telah membentuk suatu Divisi Pengmbangan Obat-obatan  (Medications Development Division) untuk membiayai dan mengembangkan penelitian terhadap senyawa-senyawa baru yang dapat yang dapat digunakan untuk rumatan dan pengobatan bagi para pencandu menghentikan kebiasaannya.  Buprenorphine, membawa hasil dalam pengobatan adiksi heroin, yang saat ini sedang mengalami pengujian klinis yang luas.

Penemuan Buprenorphine memberikan harapan bagi perkembangan senyawa-senyawa lain yang diperbolehkan. Pada tahun 1988, Professor John Lewis, disusul Reckitt dan Colman,  dan sekarang University of Bristol di Inggris, telah mempublikasikan secara terperinci suatu kelompok reseptor antagonist µ-opioid irreversible yang disebut morphinones. Turunan-turunan yang mirip codein (codeine-like) dari kelompok ini, codeinones yang telah ditemukan merupakan suatu penggugah minat untuk mengetahui profil kerja zat tersebut.

Aksi Agonis Singkat, Antagonis Lama

Pada tikus dan monyet codeinones bersifat agonis, tetapi sebagian metabolitnya bersifat antagonis morphinones yang bertahan lama. Aksi morphinones ini sangat mirip dengan aksi buprenorphine, namun mekanisme yang digunakan untuk mencapai efek-efek ini berbeda.

Pada kera rhesus ketergantungan morphine, pemberian codeinones nampaknya menimbulkan suatu perlambatan gejala tetapi gejala-gejala withdrawal bertahan lama. Meskipun keadaan “withdrawal” pada kera-kera dengan ketergantungan morphine (contohnya ; pada yang tidak lama setelah pemberian dan gejala-gejala withdrawal telah dimulai) efek agonist dari codeinones mengkompensasi gejala-gejala withdrawal. Dalam kenyataannya, efek agonist cukup dapat mengatasi pada pemberian derajat kecil yang diberikan pada kera-kera.

Ini adalah suatu gambaran yang menarik pada suatu pengobatan terhadap adiksi. Secara hipotetik, para pencanduakan menemukan kesenangan dengan codeinone karerna efek agonis ini, yang mungkin tidak mereka dapatkan dari heroin dan bahkan dengan methadone. Efek ini akan diikuti oleh efek antagonis dengan penghabatan reseptor µ-opioid, setiap opiate lain yang digunakan oleh pasien tidak memiliki efek demikian.

Pertanyaan-Pertanyaan Yang Harus Dijawab Pada Manusia

Kegunaan terkini dari codeinones bergantung pada bagaimana zat-zat tersebut dimetabolisme pada manusia. Berapa lama hambatan terhadap reseptor antagonis akan berakhir, dan apa efeknya terhadap kesehatan dan pikiran pasien. Secara luas NIDA mencari antagonis jangka panjang agar dapat membagi dosis harian dalam program yang sekarang ini. Program ini mengurangi tekanan pada pusat-pusat dan menghilangkan hubungan tingkat tinggi dengan sistem pengobatan yang beberapa pasien bereaksi melawannya.

Meskipun, jika lamanya penghambatan ini terlalu lama, hanya dosis pertama dari codeinone yang mempunyai efek agonis. Dengan dosis yang diberikan setiap hari ketiga, kemudian aksi agonis mungkin akan dihambat oleh metabolisme antagonis sebelumnya.periode yang panjang dari antagonis mungkin menyebabkan beberapa macam pengalaman depresi yang sama dengan antagonis kompetitif natrexone

Implikasi Dari Daur Ulang Reseptor

Pada tikus dan primata, reseptor penghambat nampaknya tidak dapat digunakan sampai mereka di daur ulang oleh selnya. Implikasi dari pengguanan klinis tidak jelas, waktu daur ulang pada manusia secara pasti tidak diketahui. Morphinone yang mempunyai kekecualian aksi antagonis yang irreversibel mungkin membantu manusia menetapkan ini pada manusia.

Sepertinya morphinone tidak mempunyai aksi awal agonis, tidak seperti codeinone, mereka tidak mempunyai potensial terapeutik yang hebat. Mereka tidak menarik para pencandu seperti tidak ada “tendangan” dan, sebagaimana naltrexone dan naloxone, mereka bahkan dapat menyebabkan depresi. Meskipun,  ada kemungkinan segera melindungi dari opiate untuk jangka waktu yang lama (misalnya satu minggu) amat penting bagi seorang individu. Dalam kasus-kasus demikian, morphinone mungkin sangat berguna. Meskipun begitu, efek-efek kesehatan dari penghambatan jangka panjang tetap merupakan suatu penghambat yang layak bagi morphinone dan codeinone.

Masalah konsepsual orang-orang dengan antagonis irreversibel adalah mempunyai system opioid, khususnya µ-sistem, meredam aksi, yang akan terjadi bila pencandu membutuhkan suatu analgesik ketika µ-reseptornya terhambat.

Pada tingkat tertentu, masalah ini diatasi oleh NSAIDs seperti ketorolac, yang tidak bekerja melalui system µ-opioid reseptor dan dengan demikian dapat bekerja sebagai analgesik bila µ-opioid reseptor di hambat.

Perkembangan Codeinone di Masa Depan

Secara politik, perkembangan codeinone di masa yang akan datang bergantung pada keberhasilan percobaan buprenorphin.

Hasil percobaan ini juga memberikan cahaya pada bagaimana codeinone dapat digunakan dalam terapi karena profil efek (aktifitas agonis jangka pendek  yang diikuti oleh aktifitas antagonis jangka panjang) adalah serupa untuk kedua agen ini. Meskipun demikian ada perbedaan besar mekanisme kerja diantara kedua agen ini. Codeinone, tapi bukan buprenorphine, bergantung metabolisme dari efek antagonis mereka. Meskipun demikian, Professor Lewis menyatakan bahwa tidak ada keterangan yang jelas mengenai mengapa harus ada perbedaan yang sangat besar (antara buprenorphine dengan codeinone) dalam cara mereka merubah perilaku setelah menggunakan obat ini.

(disadur dari Ian Mendell, Drug Addiction, Buprenorphine Herald New Approach to Treatment, Medical Progress January 1994, page 39-41)