M. Faisal Idrus PENDAHULUAN Acquired immune defiociency syndrome (AIDS) adalah suatu gangguan “neuromedical” yang berkaitan dengan infeksi oleh virus human immunodeficiency virus (HIV) mematikan (1). Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1981. dari analisis specimen yang didapatkan pada orang yang meninggal sebelum tahun tersebut.(1). Di Amerika  kasus pertama terjadi pada musim panas tahun 1981. Pada saat itu mulai dilaporkan adanya  Pneumonia Pneumocystic Carinii dan Sarcoma Kaposi pada seorang pria muda yang menderita homoseksual dan penurunan kekebalan (2). Meskipun demikian sebenarnya gambaran yang serupa dengan gangguan ini telah ada sejak tahun 1959 (3). Hal ini diukung adanya bukti peningkatan penyakit – penyakit yang berhubungan dengan HIV dan AIDS, khususnya di Afrika dan Amerika, namun saat itu belum dikenal. Menurut Centre for Desease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2001 diperkirakan 500.000 sampai 600,000 orang Amerika akan terinfeksi virus HIV dan 320,000 lainnya dengan AIDS. Infeksi virus ini memcapai puncaknya 150.000  pada pertengahan tahun 80 an dan berkurang sampai 40.000 pada awal tahun 90 an.(3) WHO memperkirakan diseluruh dunia terdapat 2,5 juta orang dewasa dan 1 juta anak-anak menderita AIDS, dan 30 juta telah terinfeksi HIV (3). Di Indonesia.kasus ini baru dilaporkan pada tahun 1987. saat itu ditemukan 4 kasus HIV dan 2 kasus AIDS. Dari tahun ke tahun   kasus-kasus HIV / AIDS cendrung meningkat. Data terakhir sampai pada bulan maret 2003 yang dikumpulkan YAI  ada 2 876 kasus..(4) Menurut data dari Departemen Kesehatan Kelompok umur 20 tahun hingga 29 tahun, adalah kelompok yang paling rawan terkena virus HIV. Data terakhir menunjukkan 2.877 orang di kelompok usia ini menderita penyakit AIDS (5) Menurut Pusat Pengawasan Penyakit Menular di Amerika Serikat, AIDS adalah penyakit tanpa penyebab yang jelas, diduga merupakan defek pada system imunitas yang diatur oleh tubuh yang menurunkan resistensi terhadap penyakit tersebut. Namun karena pada pemeriksaan ditemukan adanya human immunodeficiency virus, maka dianggap virus tersebutlah penyebabnya. Virus ini ditularkan melalui cairan tubuh yang terinfeksi, khususnya semen dan darah. (6) Saat ini telah ditemukan dua macan virus HIV, yaitu HIV-1 dan HIV-2. Di Negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) virus yang bertanggung jawab adalah virus HIV-1 (7). Di Indonesia kebanyakan penderita berada di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Makassar, Medan, Semarang, Solo, Surabaya dan Yogyakarta dan 60 – 90 dari mereka adalah pengguna jarum suntik.(8) Mereka yang termasuk kelompok beresiko tinggi meliputi : (1) pria homoseksual secara aktif sejak tahun 1977. (2) pengguna zat adiktif intravena. (3) penerima transfusi  darah sejak tahun 1977. (4) pasangan seksual dari tiap orang dalam kelompok berisiko tinggi. (5) orang dengan luka terbuka yang kontak dengan darah HIV. (petugas laboratorium, laundry). Diduga 2/3 dari penderita AIDS mempunyai gejala neuropsikiatrik yang terkait sebagai gejala penampilan pertama (6) DEFINISI AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah tahap akhir dan paling serius dari penyakit infeksi HIV,  yang menyebabkan kerusakan berat pada system imunitas. Menurut CDC (Centers  for Disease Control and Prevention), disebut AIDS bila seseorang dengan infeksi HIV mempunyai jumlah sel CD4 dibawah 200 (CD4 juga disebut “T-cell”, adalah suatu tipe sel imunitas). AIDS juga didefinisikan bila terdapat sejumlah infeksi oppurtunistik dan kanker yang terjadi pada seseorang dengan infeksi HIV (7) DIAGNOSIS Diagnosis AIDS ditegakkan melalui tes serum dan konseling.(3) Tes Serum. Ada dua teknik pengujian yang sekarang secara luas tersedia untuk menemukan antibodi anti-HIV dalam serum manusia. Para perawat kesehatan dan pasien harus mengerti bahwa adanya antibodi-HIV petunjuk infeksi. Dengan penemuan positif pada seseorang merupakan petunjuk bahwa dia telah terpapar oleh virus dan berpotensi menularkannya pada orang lain. Dan hampir selalu pada akhirnya berkembang menjadi AIDS. Bila hasil tes negatif dapat berarti dia tidak terpapar virus-HIV dan tidak terinfeksi atau terpapar virus HIV tetapi antibody-HIV belum berkembang. Kedua teknik pengujian yang digunakan itu adalah enzyme-linked immuno absorbent assay (ELISA) dan Western blot assay. Elisa digunakan sebagai tes pe nyaringan pertama karena tes tersebut lebih murah dari Western blot dan lebih baik untuk penyaringan dalam skala besar. ELISA sensitive dan cukup spesifik, namun ada laporan hasil negative palsu, tapi mengindikasikan positif palsu. Untuk alasan itu hasil positif dari tes ELISA harus dikomfirmasikan dengan menggunakan tesyang lebih mahal dan lebih rumit yaitu Western blot assay yang lebih sensitive dan spesifik Konseling. Konseling sebelum dan sesudah tes harus dilakukan pada setiap orang, tidak cukup hanya melalui telepon dan sebaiknya dilindungi arti dari hasil tes dan implikasi dari perubahan perilaku mereka.(3, 6, 8)

.

Konseling Pre-pemeriksaan HIV (3,6,8)
1. Perbincangan arti hasil positif dan jelaskan salah arti (contoh hasil pemeriksaan hanya menyatakan bahwa ada kontak dengan virus AIDS, tapi bukan pemeriksaan untuk AIDS
2. Perbincangan arti hasil negative (contoh : konversi serum butuh waktu, perilaku berisiko yang baru saja terjadi, butuh waktu dalam pemeriksaan)
3. Selalu siap membahas rasa takut dan perihatin pasien (ketakutan yang tidak realistic mungkin membutuhkan intervensi psikologik)
4. Bahaslah sebab perlunya pemeriksaan (Ingat, tidak semua pasien mengakui perbuatan berisiko tinggi)
5. Selidiki reaksi pasien bila hasilnya positif (contoh : “saya akan bunuh diri bila hasilnya positif”). Ambil tindakan yang diperlakukan untuk intervensi bila diduga akan ada reaksi katastropik.
6. Selidiki reaksi terdahulu terhadap stres yang hebat
7. Bahaslah masalah kerahasiaan dalam hubungan dengan situasi pemeriksaan (contoh lingkungan yang namanya dirahasiakan atau tidak dirahasiakan). Beritahu pasien tentang kemungkinan pemeriksaan di tempat lain yang namanya dirahasiakan (contoh : hasil pemeriksaan tid ak akan disimpan dalam status medik yang biasa).Bahaslah orang yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan itu.
8. Bahaslah  dengan pasien masalah sero positif dan akibatnya terhadap status social nantinya (contoh : asuransi kesehatan dan jiwa, pekerjaan, dan perumahan)
9. Selidikilah perilaku berisiko tinggi dan anjurkan intervensi menurunkan resiko.
10. Catatlah hasll bahasan dalam status pasien
11. Berikan pasien waktu untuk bertanya

Table dari R.B. Rosse. A.A Giese. S.I. Deutsch, J.M. Morihisa,. Laboratory and Diagnostic Testing in Psychiatry, American Psychiatric Press, Washington,.1989, hlm 55

Konseling Pasca-Pemeriksaan HIV (3,6, 8)
1. Penjelasan hasil pemeriksaan –          Jelaskan sala interpretasi (seperti : “hasil negatif berarti kamu masih dapat kena virus pada saat mendatang, itu tidak berarti kamu kebal terhadap AIDS”. –          Tanyakan pada pasien tentang pengertian dan reaksi emosional terhadap hasil pemeriksaannya.
2. Rekomendasi untuk pencegahan penularan (pembahasan yang cermat tentang perilaku berisiko tinggi dan pedoman untuk pencegahan penularan).
3. Rekomendasi tentang perawatan lanjutan dari pasangan seksual dan kontak jarum.
4. Bila hasil pemeriksaan positif, rekomendasi untuk tidak menyumbangkan darah, sperma atau organ dan jangan meminjamkan pisau cukur/silet, sikat gigi, dan benda lain yang mengandung darah
5. Rujuklah untuk mendapatkan dukungan psikologik : –          Pasien dengan HIV positif sering memerlukan tim kesehatan jiwa (nilailah kebutuhan untuk rawat inap atau rawat jalan, pikirkan terapi yang mendukung perorangan atau kelompok). Yang sering terjadi ialah kekagetan mendengardiagnosanya, takut akan mati dan akibat sosialnya, sedih akan kemungkinan kehilangan macam.-macam fasilitas, dan selalu mengharapkan untuk berita yang bagus. Juga cari adanya depresi, keputusasaan, geram, frustasi, rasa dosa dan obsesi –          Mendukung aktif pada pasien (seperti : keluarga, teman, pelayanan social.

Table dari R.B. Rosse. A.A Giese. S.I. Deutsch, J.M. Morihisa,. Laboratory and Diagnostic Testing in Psychiatry, American Psychiatric Press, Washington,.1989, hlm 58 Diagnosa AIDS ditegakkan pada seorang pasien dengan HIV positif dengan penurunan imunitas dan infeksi oppurtunistik (seperti : pneumonia pneumocystic carinii) atau neoplasma (seperti : sarcoma Kaposi) sebagai tambahan, definisi kasus pangawasan AIDS yang diperluas termasuk semua orang yang terinfeksi oleh HIV yang mempunyai jumlah CD+4 T-limfosit kurang dari 200/µl. atau kurang dari 14 persen CD+4 T-limfosit dari total limfosit yang didignosis sebagai tuberculosis pulmoner, kanker servikal siinvasive, atau pneumonia rekurentis. (6) WHO memperkenalkan suatu criteria disgnostik berdasarkan gejala klinis yang dapat digunakan dilapangan, namun tergantung kondisi saat itu. Sekarang ini kriteria diagnostik itu dimodifikasi dan disesuaikan dengan serologis HIV. Seorang pengidap AIDS ditetapkan atau ditentukan dengan adanya paling sedikit dua gejala utama yang berkaitan dengan satu gejala minor, dan tidak adanya penyebab tertekannya system kekebalan yang telah diketahui seperti adanya kanker atau gangguan malnutrisi yang parah atau etiologi lainnya yang telah dikenal.(8,9) Gejala Utama : (1)   berkurangnya berat badan lebih dari 10 % (2)   diare kronis selama lebih dari sebulan (3)   demam lama lebih dari sebulan (intermitten atau terus menerus) Gejala Minor : (1)   batuk persisten selama lebih dari sebulan (2)   dermatitis pruritus generalisata (3)   herpes zoster recurrent (4)   kandidiasis orofaringeal (5)   infeksi herpes simpleks yang kronik, progresif dan menyebar. (6)   limfadenopati generalisata. Bila ada sarcoma Kaposi generalisata dan meningitis kriptokokus saja sudah cukup untuk mendiagnosis AIDS. Untuk tujuan mengawasi adanya epidemic, seorang dewasa (lebih dari 12 tahun) dianggap mengidap AIDS bila : (8)

  • Bila hasil tes kekebalan terhadap HIV positif, disertai adanya satu atau lebih dari gejala-gejala berikut ini :

(1)   berat badan yang menurun lebih 10 % atau adanya kaheksia, diseerartai diare atau demam, atau kedua-duanya, intermitten atau terus menerus sekurang-kurangnya berkaitan dengan infeksi HIV (2)   bila menderita tuberculosis disertai berkurangnya berat badan seperti yang digambarkan diatas, atau tuberculosis yang menyebar (mempengaruhi paling (yang merupakan diagnosis dugaan) (3)   sarcoma Kaposi (4)   gangguan neurologik yang cukup memadai untuk mencegah aktivitas sehari-hari yang mandiri, belum diketahuiapakah disebabkan oleh suatu kondisi yang berkaitan dengan infeksi HIV (misalnya : trauma) (5)   kandidiasis esophagus (yang merupakan diagnosis dugaan berdasarkan atas adanya gejala disfagia dan kandiasis oral) Diagnosis AIDS pada bayi dan anak yang digunakan adalah sebagia berikut :

  1. Seorang anak berumur lebih dari 18 bulan ditetapkan menderita infeksi HIV bila menunjukkan hasil HIV tes positif, dan sekurang-kurangnya didapatkan 2 gejala mayor dan 2 gejala minor dibawah ini dengan ibu HIV positif, dan gejala tersebut bukan disebabkanoleh keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.
  2. Anak umur 18 bulan atau kurang, ditemukan 2 gejala mayor yang berkaitan dan 2 gejala minor dengan ibu HIV positif. Gejala ini bukan disebabkan oleh keadaan lain yang tidak berkaitan dengan infeksi HIV.

Gejala mayor

  • Berat badan menurun atau gagal tumbuh.
  • Diare terus menerus atau berulang dalam waktu lebih dari 1 bulan.
  • Demam terus-menerus atau berulang dalam waktu lebih dari 1 bulan
  • Infeksi saluran pernafasan bagian bawah yang parah dan menetap.

Gejala minor

  • Limfadenopali generalisata hepatosplenomegali
  • Kandidiasis oral.
  • Infeksi bakteri dan / atau virus yang berulang
  • Batuk kronis
  • Dermatitis yang luar
  • ensepahlitis.

Klasifikasi Klinis HIV/AIDS Ada beberapa klasifikasi HIV/AIDS. Saatini yang banyak digunakan adalah klasifikasi dari CDC dan WHO.(8) Klasifikasi klinis dan CD4 pasien remaja dan dewasa menurut CDC.

CD4 Kategori Klinis
Total % A (Asimtomatik, Infeksi Akut) B (Simtomatik) C (AIDS)
> 500 ml > 29 % A1 B1 C1
200- 499 14 – 28 % A2 B2 C2
< 200 <14 % A3 B3 C3

Kategori Klinis A, meliputi infeksi HIV tanpa gejala (asimtomatik). Limpadenopati generalisata yang menetap (Persistent Generalized Lymphadenopathy/PGL) dan infeksi HIV akut primer dengan penyakit penyerta atau adanya riwayat infeksi HIV akut. Kategori Klinis B, terdiri atas kondosi dengan gejala (simtomatik) pada remaja atau orang dewasa yang terinfeksi HIV yang tidak termasuk dalam katagori C dan memenuhi paling kurang satu dari beberapa kriteria berikut : a)       keadaan yang dihubungkan dengan infeksi HIV atau adanya kerusakan kekebalan  yang diperantarai sel (Cell Mediated Immunity) atau b)       kondisi yang dianggap oleh dokter telah memerlukan penanganan klinis atau membutuhkan penatalaksanan akibat komplikasi infeksi HIV. Contohnya :

  • Angiomatosis basilaris
  • Kandidiasis orofaringeal
  • Kandidiasis vulvovaginalis
  • Displasia leher rahim
  • Demam lebih 38,50C atau  diare lebih dari 1 bulan
  • Oral Hairy leukoplakia
  • Herpes zoster
  • Purpura idiopatik trombositopenik
  • Listeriosis
  • Penyakit radang panggul.
  • Neuropati perifer

Kategori Klinis C meliputi gejala yang ditemukan pada pasien AIDS, misalnya :

  • Kandidiasis bronki, trakea dan paru
  • Kandidiasis osefagus
  • Kanker leher rahim invasif
  • Coccidiodomycosis menyebar atau di paru
  • Kriptokokosis diluar paru
  • Retnitis virus sitomegalo
  • Ensefalopati yang berhubungan dengan HIV.
  • Histoplamosis menyebar atau di luar paru
  • Isosporiasis intestinal kronislebih dari sebulan lamanya
  • Sarkoma Kaposi
  • Limfoma Burkitt (atau istilah lain yang menunjukkan lesi yang mirip}
  • Limfoma imunoblastik
  • Limfoma primer otak
  • Mycobacterium Avium Complex (MAC) atau M. Kansasii tersebar atau di luar paru.
  • Mycobacterium tuberculosis dimana saja (paru atau diluar paru
  • Mycobacterium jenis lain atau jenis yang tak dikenal tersebar atau diluar paru-paru
  • Peeumonia Pneumocystic carinii
  • Pneumonia yang berulang
  • Leukoencephalopati Multifokal Progresif
  • Septikemia salmonella yang berulang
  • Toksoplasmosis di otak.

Klasifikasi klinis infeksi HIV pada orang dewasa menurut WHO (8)

Stadium Gambaran Klinis Skala Aktivitas
I 1.      Asimtomatik 2.      Limfadenopati generalisata Asimtomatik aktivitas normal
II 3.      Berat badan menurun <10% 4.      Kelainan kulit dan mukosa yasng ringan seperti dermatitis seboroik, prurigo, onikomikosis, ulkus oral yang rekuren 5.      Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir. 6.      Infeksi saluran nafas bagian atas seperti : sinusitis bacterialis Simtomatik, aktivitas normal
III 7.      Berat badan menurun > 10% 8.      Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan 9.      Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan 10.  Kandidiasis orofaringeal 11.  Oral Hairy Leukoplakia 12.  TB paru dalam tahunterakhir 13.  Infeksi bacterial yang berat seperti pneumonia, piomiositis. Pada umumnya lemah, aktivitas di tempat tidur kurang dari 50%
IV 14.  HIV wasting syndrome. Seperti yang didefinisikan oleh CDC. 15.  Pneumonia Pneumocystic carinii 16.  Toksoplasmosis otak 17.  Diare kriptokokosis lebih dari 1 bulan 18.  Kriptokokosis diluar paru 19.  Retnitis virus sitomegalo 20.  Herpes simpleks mukokutan >1 bulan 21.  Leukoencephalopati Multifokal Progresif 22.  Mikosis diseminata seperti histoplasmosis 23.  Kandidiasis bronki, trakea dan paru, esofagus 24.  Mikobakteriosis  atipikal diseminata 25.  Septikemia salmonellosis non tifoid 26.  Tuberkulosis di luar paru 27.  Limfoma 28.  Sarkoma Kaposi 29.  Ensefalopati HIV Pada umumnya sangat lemah, aktivitas di tempat tidur lebih dari 50

Ada yang membagi group IV ini dalam lima subgroup (A-E), yaitu :

  1. Subgroup A merupakan kelompok penyakit yang bersifat dasar dikenal sebagai AIDS-Related Complex (ARC) yang meliputi penurunan berat badan, kelelahan kronik, keringat malam, demam, mialgia, diare, infeksi kulit.
  2. Subgroup B dikenal sebagai HIV-related neurological desease yang meliputi berbagai penyakit neurolog dan neuropsikiatri yang merupakan komplikasi dari infeksi HIV seperti AIDS-related dementia, primary cerebral lymphoma. Meningitis AIDS..
  3. Subgroup C terdiri dari penyakit akibat infeksi oppurtunistik seperti pneumonia pneumocystic carinii, meningitis akibat infeksi cryptococcus neoformans, encephalitis oleh cytomegalo virus, multiple cerebral abscess oleh toxoplasma gondii.
  4. Subgroup D terdiri dari neoplasma sekunder seperti sarcoma Kaposi.
  5. Subgroup E adalah kumpulan dari berbagai keadaan lain seperti thrombocytopenia.

GAMBARAN KLINIK Manifestasi psikiatrik yang sering dijumpai berhubungan dengan infeksi HIV berupa gangguan  fungsional seperti depresi, cemas, gangguan penyesuaian dan jarang sekali gangguan psikotik dan mania. Dapat juga dijumpai gangguan mental organic seperti demensia, delirium, depresi, mania, psikosis, gangguan kepribadian organik   sebagai akibat infeksi HIV langsung pada SSP atau infeksi yang kebetulan oleh organisme lain seperti toksoplasmosis, kriptokokosis, sitomegalo virus, dan herpes. Hal ini juga dapat ditimbulkan oleh metastase dari sarcoma Kaposi dan limfoma primer pada SSP.(6) . HIV-Associated Dementia, dalam DSM IV – TR (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fourth edition Text Revision) diperbolehkan mendiagnosis demensia  karena HIV bila ada “penampilan demensia merupakan konsekwensi patofisiologia langsung dari infeksi HIV” (3,11). Demensia dengan HIV tersebut tidak disebabkan oleh infeksi HIV saja tapi juga dapat disebabkan oleh infeksi lain atau tumor seperti infeksi SSP, tumor SSP, abnormalitas SSP akibat infeksi sistemik, dan endokrinopati serta efek samping akibat penggunaan zat / obat pada SSP. Sedangkan dalam ICD-10 dan PPDGJ-III. Digambarkan bahwa “Demensia pada penyakit HIV” merupakan suatu gangguan yang ditandai oleh defisit kognitif yang memenuhi kriteria diagnostic klinis untuk demensia, tanpa ditemukannya penyakit atau kondisi lain selain infeksi HIV.(11,12).Gambaran klinik khas dari gangguan ini menunjukkan keluhan sering lupa, gerakan lamban, kurang konsentrasi, sulit membaca serta mengatasi masalah, apati, spontanitas menurun, penarikan diri secara social. Pada pemeriksaan fisik sering menunjukkan adanya tremor,gangguan gerakan berulang-ulang yang cepat, gangguan keseimbangan, ataksia, hipertonia, hiperrefleksi, gangguan gerakan bola mata(dalam mengikuti suatu benda). Demensia HIV merupakan tanda prognosis yang buruk, karena biasanya berjalan secara cepat dan progresif (dalam beberapa minggu atau bulan) menjadi demensia global yang parah, mutisme, dan berakhir dengan kematian. 50-75 % HIV dengan demensia meninggal dalam waktu 6 bulan.. . Gangguan Neurokognitif Ringan. Merupakan suatu bentuk gangguan SSP yang lebih ringan dari HIV-associated dementia. Gangguan ini juga dikenal sebagai “HIV-encephalopathy”. Karakteristiknya ditandai oleh gangguan fungsi kognitif dan berkurangnya aktivitas mental yang mempengaruhi pekerjaan, pengurusan rumah tangga, fungsi social. Delirium. Delirium dapat diakibatkan oleh infeksi yang sama dengan penyebab demensia pada pasien infeksi HIV. Karakteristik dari gangguan ini dengan adanya peningkatan atau penurunan aktivitas. Anxietas (cemas). Gangguan anxietas yang sering dijumpai pada infeksi HIV meliputi gangguan cemas menyeluruh, Stres pasca trauma, dan obsesi kompulsif. Gangguan penyesuaian. Gangguan penyesuaian dengan afek cemas atau afek depresi dilaporkan terjadi pada 5 – 20 % pasien dengan infeksi HIV. Insidennya gangguan penyesuaian pada orang dengan infeksi HIV  lebih tinggi pada populasi khusus seperti calon prajurit dan narapidana. Depresi. Sekitar 4 – 40 % dari pasien dengan infeksi HIV dilaporkan memenuhi kriteria diagnostic depresi. Prevalensi depresi pre-infeksi HIV mungkin lebih tinggi dari biasa pada beberapa kelompok yang berisiko berhubungan dengan HIV. Beberapa gejala depresi (seperti kurang tidur, kehilangan berat badan) dapat juga disebabkan oleh infeksi HIV sendiri. Depresi ini lebih sering pada wanita daripada laki-laki. Mania. Gangguan suasana perasaan dengan gambaran mania, dengan atau tanpa halusinasi, waham, atau gangguan proses pikir dapat menjadi penyulit pada berbagai tahapan infeksi HIV, tapi kebanyakan terjadi pada tahap terakhir penyakit komplikasi dengan gangguan neurokognitif. Penyalah gunaan zat. Penyalah gunaan zat adalah suatu problem yang tidak hanya bagi pelaku penyalah gunaan zat intra-vena yang mengidap infeksi HIV saja, tetapi juga bagi pasien-pasien lain dengan HIV, yang mungkin adakalanya  menggunakan zat illegal dimasa lalunya, tetapi sekarang tergoda untuk menggunakan secara teratur untuk menghadapi depresi atau kecemasan Bunuh diri ide-ide bunuh diri dan percobaan bunuh diri mungkin meningkat pada pasien dengan infeksi HIV dan AIDS. Factor pendorong  untuk bunuh diri diantara orang-orang dengan infeksi HIV adalah karena mempunyai teman yang meninggal karena AIDS. Gangguan Psikotik. Gejala-gejala psikotik biasanya muncul pada tahap akhir dari komplikasi infeksi HIV. Keadaan ini memerlukan pengobatan dan evaluasi secepatnya dan seringkali membutuhkan pengobatan antipsikotik. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan Gangguan / Penyakit HIV / AIDS meliputi : A. Terapi Medik. Terapi ini ditujukan untuk mengobati komplikasi medik dan ditambahkan dengan agent antivirus untuk melawan infeksi HIV Pengobatan Infeksi Opportunistik

Infeksi Pengobatan Dosis
Pneumocystic Carinii Sulfamethoxazole – trimethoprim Atau Pentamidine Isethionate Trimethoprim 20 mg/kgBB/ hari, sulfamethoxazole 100mg /kgbb/hari 4 mg/kg/hari I.V
Cryptococcal Meningitis Amphotericin B dan Flucytosine 0,4-0,6 mg/kg/ hari I.V 100 mg /kg/hari
Toxoplasmosis Sulfadiazine Sodium dan Pyrimethamine 4 g / hari peroral 25-50 mg/hari peroral .
Mycobacterium avium-intracellulare Cryptosporidiosis Oral Candidiasis Clotrimazole troche Atau Nystatin  atau ketoconazole 5 troche / hari 5000 U 3 x sehari 200-400 mg 2 x sehari
Esophagus candidiasis Cytomegalo virus Herpes Simplex Herpes Zoster (disseminated) Ketoconazole 9(2 hydroxy-1 hydroxymethyl -1-ethoxymethyl ) guanine Acyclovir sodium Acyclovir sodium 200 mg 2 x sehari Dalam penyelidikan 200 mg 5 x sehari 10 mg/kg/hari I.V 800 mg 5 x sehari

B. Terapi Psikofarmaka. Terapi digunakan bila terdapat gangguan psikiatri yang menyertai atau disebabkan oleh perkembangan virus HIV seperti gangguan mental organic, anxietas, depresi dan psiotik. -Pada keadaan agitasi dapat diatasi dengan pemberian antipsikotik (haloperidol, trifluoperazine) dalam dosis rendah. -Depresi dapat diatasi dengan pengobatan anti depresan yang mempunyai efek anti kholinergik (amitriptilin, imipramin, maproptilin). -Jika terjadi kerusakan otak dan penggunaan obat antidepresan yang mempunyai efek antikholinergik harus berhati-hati untuk mencegah terjadinya atropin psikosis, amphetamine dosis kecil mungkin bermanfaat dalam mengatasi depresi. -Pemberian Benzodazepin dalam dosis rendah bermanfaat dalam mengatasi kecemasan dan gangguan tidur. – Gangguan tidur juga dapat diatasi dengan penggunaan antipsikotik yang mempunyai efek sedasi dalam dosis kecil seperti thioridazine 25 mg.atau antihistamin. – Pemberian lithium karbonat mungkin pada individu dengan gejala manik, namun penggunaannya harus dengan pengawasan yang ketat terutama pada gangguan ginjal. – Pada kasus-kasus depresi dengan ide-ide bunuh diri, sebaiknya dianjurkan rawat inap dengan pemberian antidepresan dan pengawasan yang ketat. Pengobatan Tanda dan Gejala Psikiatrik dengan AIDS

Tanda dan Gejala Psikiatri Terapi Keterangan
Anxietas (cemas) Anxiolitik Benzodiazepin
Insomnia Anti psikotik dosis rendah Antihistamin Thioridazin 25 mg Diphenhydramin 10 mg
Anxietas berat Sindroma Mental Organik dengan gaduh gelisah Episode Psikotik Antipsikotik Antipsikotik dosis rendah Haloperidol 0,5 – 2 mg / hr Chlorpromazine 50 – 200 mg / hari atau equivalennya
Depresi Berat Antidepresan Antidepresan dengan efek samping antikolinergik (amitriptilin,imipramin, maproptilin, dsb) atau amphetamine dosis rendah
Mania Lithium Fungsi ginjal harus dimonitor secara hati-hati

C. Psikoterapi. Terapi ini bertujuan menolong pasien menghadapi perasaan bersalah akibat perilakunya yang mengembangkan AIDS yang menjadikannya  dihina oleh orang lain dimasyarakatnya. Dapat diberikan secara individual maupun dalam kelompok. Psikoterapi individual berupa terapi kognitif, terapi perilaku, dan supportif. Sedangkan psikoterapi kelompok berupa terapi kelompok supportif dan terapi kelompok berorientasi tilikan. DAFTAR RUJUKAN

  1. Kaplan HI, Sadock BAcquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), Pocket Handbook of Clinical Psychiatry  , 6 th ed, William & Wilkins, Baltimore USA, 2000, 297 – 303
  2. Adler MW, Perkembangan Epidemiologi, dalam Petunjuk Penting AIDS,edisi ketiga. Alih Bahasa : Ken Ariata Tengadi. EGC, Jakarta, 1996.hlm 1-4.
  3. Kaplan HI, Sadock BJ. :Neuropsychiatric Aspect of HIV Infection and AIDS , Sypnosis of Psychiatry, 9 th ed, William & Wilkins, Baltimore USA, 2000, 371 – 379..
  4. Republika Online :http : www.republika.co.id. Saatnya Bertindak Nyata ; Republika, 18 Agustus 2006.
  5. —————- : htm. Kompas ; Kasus HIV/AIDS di Indonesia Terus Meningkat. Kompas, selasa, 15 Februari 20005.
  6. Kaplan HI, Sadock BJ. :Sindroma Imuno-Defisiensi Akuisita (SIDA, AIDS), Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat, Alih Bahasa : Wicaksana M. Roan Cet 1, EGC. Jakarta, 1998, 92 – 96…
  7. Levy Daniel., Infectious Desease, Greater Baltimore Medical Center, Baltimore, 4/14/2004
  8. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI., Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan Bagi ODHA, Departemen Kesehatan RI., Jakarta, 2003
  9. De Cock KM ; Infeksi HIV dan AIDS di Negara Berkembang,  dalam Petunjuk Penting AIDS, Edisi ketiga. Alih Bahasa : Ken Ariata Tengadi. EGC, Jakarta, 1996. hlm 83 – 87
  10. Puri. B.K., Laking P.J., Treasaden IH., ; Acquired Immuno Deficiency Syndrome., Textbook of Psychiatry.,  Churchill Livingstone, New York, 1996, 111-112.
  11. American Pshyciatry Association : Anxiety Disorder, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder IV (DSM-IV), Washington , USA, 1994.
  12. World Health Organization (WHO) : Anxiety Disorder, ICD-10 Classification of Mental Disorders and Behavior Disorders, Geneva, 1994.
  13. Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jendral Pelayanan Medik., Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III, Cet. Pertama-Departemen Kesrhatan RI,  Jakarta, 1993